Bijaksana Atau Bodoh…
Seorang wanita muda belia memasuki halaman sebuah lobi hotel,
sedetik agak bingung untuk bertanya kepada siapa? tiba-tiba matanya tertuju pada label bertuliskan ‘receptionist’, seraya mengembangkan senyum ia menanyakan nama seorang pria yang menjadi tamu di hotel itu kepada reseption, setelah beberapa menit mencari daftar tamu di buku catatan yang agak besar dan tebal, akhirnya sang reseption-pun menyebutkan nomer kamar dimana sang pria yang dituju wanita itu menginap..
Dengan tergesa wanita itu memasuki lorong yang tidak berapa panjang, sesekali matanya mencari-cari dimana nomor kamar yang telah diberikan sang reseption kepadanya…
Sedetik matanya terpaku pada tiga angka yang terpampang di depan pintu kamar berplitur coklat, dengan sedikit berdebar dan gugup diketuknya pintu itu, agak lama memang akan tetapi selang beberapa menit kemudian dari kamar yang agak gelap karena hanya diterangi lampu kamar mandi yang memang sepertinya sengaja dibiarkan untuk menerangi ruangan, keluar seorang pria paruh baya yang tampak masih agak mengantuk menyapa wanita itu dengan ramah..
“Nisa..ternyata tepat waktu yah?” kata pria yang ternyata atasan tempat Anisa bekerja itu mengawali pembicaraan.
“Hari ini..tolong carikan brosur dan tempat wisata yang bagus di wilayah ini, untuk menjamu para klien kita pekan depan, karena saya tidak tahu banyak dengan tempat-tempat wisata di kota ini,” tuturnya.
Seraya tersenyum dan menganggukkan kepala, Anisa menyatakan kesanggupannya untuk melaksanakan tugas itu “Baik pak..!”, ia tahu pasti bahwa atasannya itu baru datang dua hari yang lalu di kota tempat Anisa tinggal yang merupakan salah satu kantor cabang dari perusahaan yang bergerak di bidang suplier peralatan berat, bahkan nama perusahaan tempatnya bekerja telah terkenal seantero nusantara.
Karena merasa itu merupakan tugas penting yang ditugaskan kepadanya, apalagi dari seorang atasan kantor pusat yang juga memiliki cukup pengaruh di kantornya, Anisa langsung bergegas dan pamit untuk melaksanakan tugas itu.
Beberapa langkah usai meninggalkan kamar itu, ia teringat bahwa ada suatu berkas yang telah ia persiapkan dari rumah untuk ditandatangani oleh atasannya itu, maka tanpa ragu ia pun bergegas kembali ke kamar yang sama.
Mula-mula di panggilnya sang atasan dengan agak pelan sambil mengetuk pintu “Pak Pri…pak Pri,” serunya.
Merasa sang atasan tidak keberatan dengan kedatangannya maka ia membuka pintu tanpa dikomando, alangkah terkejutnya ia saat membuka pintu kamar dan melihat sesosok bayangan wanita di belakang atasannya itu, dengan setengah berlari dari tempat tidur menuju kamar mandi sepertinya tidak ingin diketahui kehadirannya oleh Nisa.
Berbagai perasaan saat itu bercampur menjadi satu, antara kaget sungkan dan mencoba menenangkan diri sendiri karena ia tahu pasti isti dan keluarga bos-nya itu berada di kota lain, artinya bayangan wanita itu adalah pasangan selingkuh sang bos, firasatnya sepertinya tidak meleset buktinya sang bos pun langsung menutup pintu kamar dan mempersilakan Nisa untuk duduk di kursi luar kamar
Tanpa berpikir panjang ia serahkan berkas yang belum ditandatangani itu sambil bertingkah sepertinya ia tidak melihat siapapun dikamar itu selain atasannya, dan kembali pamit untuk bergegas keluar dari hotel megah itu.
Kini Ia bingung..apa yang mesti ia lakukan apakah menceritakan aib itu pada keluarga atasannya meski tanpa tatap muka (telepon, surat, fax, email dsb) toh ia tidak akan menyebutkan namanya dan hanya memberikan informasi itu, ataukah berpura-pura seakan tidak terjadi apapun di kamar itu..
“Ah…entahlah aku tidak mengerti apakah kebungkamanku ini adalah tindakan yang bijaksana ataukah bertindak seperti seorang yang bodoh?” tanyanya membatin.
(**Kisah diatas adalah kisah nyata, tanpa mengurangi maksud dan inti dari cerita, nama dan tempat pelaku sengaja disamarkan**)

Wah pilihan yang sulit. Kalo gw pribadi sih ngga akan ikut campur karena itu urusan rumah tangga mereka dan bisa membahayakan posisi kita di kantor tsb. Kecuali….. kalo gw kenal dekat dg istri si bos tsb. Udah pasti gw akan lsg ngasih tau walopun dg resiko kehilangan pekerjaan.
Itu sih pendapat pribadai yaaa… tiap orang pasti punya pandangan berbeda. Mudah2an ‘tokoh’ cerita ini bisa mengambil keputusan yang tepat.
Comment by erfi — May 17, 2005 @ 4:17 pm
Setuju ama koment Erfi, kalo kenal deket ama istri bosnya bole deh kasih tau, kalo gak tau mendingan tutup mulut deh! daripada nanti kita sendiri yang dituduh mengubar cerita boong dsbnya. btw, lam kenal ya! nice blog:)
Comment by Sarie — May 18, 2005 @ 9:28 am
kalo aku.. emmhhh mending diem aja deh..
Comment by Kang ebet — May 25, 2005 @ 9:19 pm
Apa yg kita lakukan biasanya bergerak atas dasar manfaat. Klo kita merasa mengadukan perselingkuhan-klo emang benar itu perselingkuhan-ada manfaatnya-baik bagi dunia maupun akherat-,,maka lakukanlah.Tapi klo kita merasa mengadukan memiliki tingkat kemadharatan lebih besar daripada kemanfaatan,maka tinggalkanlah. Tapi siapakah yang lebih baik perkataannya selain yg menyerukan kebenaran di jalan Allah….
Comment by Bijak — November 2, 2006 @ 4:18 pm